loading...

Supaya Pede Berbicara di Depan Umum (1)

apOleh: Agung Praptapa*

Ada suatu fakta yang mengejutkan! Di Amerika Serikat, ketakutan berbicara di depan umum menduduki rangking yang lebih tinggi dari pada takut kepada ketinggian. Berbicara di depan umum bahkan dianggap lebih menakutkan dari pada kematian. Bagi kebanyakan orang, berbicara di depan umum memang sangat menakutkan. Mereka tidak percaya diri untuk berbicara di depan umum. Orang yang kesehariannya cerewet luar biasa, dan kalau berbicara hampir-hampir tidak bisa dihentikan, dalam banyak kasus tidak mampu berbicara di depan umum. Begitu menakutkankah berbicara di depan umum?

Banyak orang beranggapan bahwa kemampuan berbicara di depan umum adalah bakat alam. Ada orang yang memang berbakat dan ada orang yang tidak berbakat. Orang-orang ini beranggapan bahwa para pembicara terkenal sudah dari kecil pandai berbicara di depan umum. Namun, fakta menunjukkan lain. Banyak pembicara hebat yang sebelumnya takut berbicara di depan umum. Mereka menjadi hebat karena belajar serius, mengamati pembicara sukses, mencobanya, dan belajar dari kegagalan maupun keberhasilan.

Tidak hanya sebagai pembicara, dalam kehidupan secara umum juga banyak orang sukses karena mencoba, berusaha, dan belajar dari pengalamannya. Jadi di sini, tampaknya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa untuk menjadi pembicara hebat kita bisa belajar. Nothing is impossible. Every thing can be learned. Kalau begitu, untuk menjadi percaya diri juga bisa dipelajari? Iya benar. Untuk itu, mari kita pelajari bagaimana supaya kita percaya diri (PeDe) saat berbicara di depan umum.

Mengapa Tidak Pede?

Orang yang tidak pede adalah orang yang memiliki keyakinan bahwa mereka tidak akan mampu mengerjakan dengan baik sesuatu yang mereka akan kerjakan, sedangkan kondisi sebenarnya tidaklah seburuk itu. Mereka juga merasa bahwa mereka tidak tepat pada suatu kondisi dan situasi tertentu. Dengan kata lain, orang yang tidak pede adalah orang yang menilai dirinya sendiri lebih rendah dari situasi sebenarnya (down grade, undermine). Jadi, orang yang tidak pede tidak mampu secara objektif menilai dirinya sendiri.

Orang yang tidak pede biasanya memiliki konsepsi yang keliru tentang diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Mereka melihat keberadaan manusia seperti mass production yang manghasilkan produk dengan kualitas yang berbeda-beda. Ada kualitas 1 (kw1), kw2, dan seterusnya, bahkan ada produk yang dianggap rusak (defect).

Pandangan ini jelas keliru. Manusia tercipta dengan keunikan sendiri-sendiri. Bisa saja seseorang lebih unggul di satu sisi, tetapi tidak akan ada manusia yang unggul di segala hal. Setiap manusia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Kelebihan manusia bisa menjadi kekurangan, dan sebaliknya, kekurangannya bisa juga menjadi kelebihannya.

Kearifan manusia dalam memosisikan dirinya sendiri akan berdampak pada bagaimana manusia memosisikan orang lain. Kalau diri sendiri adalah unik, maka perbedaan haruslah dipandang sebagai keunikan pula. Orang lain juga memiliki keunikan sendiri. Manusia satu dengan lainnya tidaklah harus sama, karena masing-masing memiliki keunikan sendiri. Nah, kalau sudah begini, maka sudah tidak pada tempatnya lagi kita memandang orang lain serba lebih dari kita, dan kita serba kurang dari mereka.

Yang ada adalah kita memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda, tidak harus sama antara satu orang dengan orang lain. Jadi, tidak perlu kita melihat orang lain sebagai standar tunggal. Boleh saja kita menempatkan orang lain sebagai benchmark (bandingan), namun itu semua dalam kerangka tidak untuk menghakimi diri sendiri bahwa orang lain selalu lebih baik dari kita.

Lingkungan juga harus kita terjemahkan dengan bijak. Tuhan menciptakan alam dan seisinya untuk kepentingan manusia, bukan untuk kepentingan si A saja, atau si B saja. Dengan demikian, tidak pada tempatnya kalau kita selalu menyalahkan lingkungan dan keadaan sebagai kambing hitam atas kesalahan kita dalam menempatkan diri sendiri maupun orang lain.

“Keadaan tampaknya tidak memihak pada kita,itu kata-kata yang sering kita dengar untuk menjustifikasi bahwa sudah pada tempatnyalah kalau kita tidak pede pada suatu lingkungan tertentu. Ini keliru. Kitalah yang harus bisa mengendalikan lingkungan, bukan kita yang dikendalikan oleh lingkungan. Hal ini bukan berarti lingkungan harus menuruti apa saja yang kita mau. Bukan begitu. Ini berkaitan dengan bagaimana kita harus merespon keadaan pada suatu lingkungan.

Sebagai contoh, seseorang dari golongan ekonomi lemah harus bekerja di suatu lingkungan di mana hampir semua orang yang ada di sana adalah dari golongan ekonomi kuat. Pada keadaan seperti ini orang yang tidak pede memiliki alasan untuk minder, sehingga berikutnya semakin kuatlah ketidakpedean mereka. Tetapi, mungkin ada orang yang merespon dengan cara lain. Saat seseorang yang miskin harus berada di lingkungan orang-orang kaya, bisa saja orang miskin tersebut justru bersyukur mendapatkan kesempatan untuk berada di antara orang-orang kaya.

Nah, di sinilah pentingnya kita mengasah kemampuan dalam menterjemahkan keadaan. Yang jelas, hal ini bisa dilatih dan dipelajari. Suatu keadaan yang sama apabila diterjemahkan dengan cara berbeda bisa menghasilkan hal yang berbeda pula.

Dalam suatu training untuk meningkatkan kepercayaan diri saya meminta semua peserta menuliskan sebanyak-banyaknya hal-hal yang bisa dijadikan alasan yang jitu sehingga kita tidak pede. Setelah peserta memiliki daftar ‘alasan jitu sehingga kita layak untuk menjadi tidak pede’, para peserta saya minta untuk menerjemahkan hal tersebut dengan cara yang berbeda sehingga yang sedianya menjadikan ‘tidak pede’ agar diputar menjadi ‘pede’. Dan hal tersebut saya minta untuk dilakukan terus-menerus kapan pun dan di mana pun saat kita tidak pede.

Ini suatu keterampilan, sehingga semakin sering dan semakin terlatih kita dalam melakukan hal tersebut, semakin kita memiliki amunisi alasan yang cukup agar kita menjadi “pede”. Mau mencoba latihan ini? Silakan. Rasakan perubahannya. Selamat mencoba.[ap](Bersambung).

* Agung Praptapa adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis tetap di andaluarbiasa.com. Tulisan ini untuk mendukung training “Empowering Your Confidence in Public Speaking”. Website: www.praptapa.com, pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar