loading...
Tampilkan postingan dengan label Tentang Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Gorila, Jamur dan HIV

Gorila, jamur, dan HIV. Sulit membayangkan jika ketiga hal itu bisa saling terkait dan berhubungan. Awal November lalu, pada akhirnya dipastikan adanya virus yang mendekati HIV pada gorila.

Karena itu, para ahli menyarankan dengan sangat agar menghindari konsumsi daging makhluk yang berperilaku mirip manusia tersebut. Seiring dengan itu, para ilmuwan tak mampu menutup mata pada merebaknya jamur sebagai efek samping para penderita HIV….

Perkembangan HIV/AIDS memang tidak bisa diabaikan. UNAIDS, Badan PBB untuk Kesehatan Dunia Khusus AIDS, memperkirakan perkembangan dan pertumbuhan penyakit tersebut sudah pada tingkat yang sangat memprihatinkan. Tahun 2006 tercatat 39,5 juta orang hidup dalam kungkungan HIV. Jumlah ini meningkat lebih dari 2,9 juta dibandingkan dengan tahun 2004. Dari jumlah itu, korban yang terinfeksi menjadi 4,3 juta orang atau meningkat sekitar 400.000 orang dibandingkan dengan tahun 2004.

Di Indonesia sendiri, perkembangannya pun sudah mengkhawatirkan. Sejak kasus pertama ditemukan tahun 1987, pada Juni 2005 ditemukan 7.090 kasus. Jumlah itu terus meningkat. September 2005 ditemukan 8.250 kasus. Sedangkan Desember dilaporkan ditemukan 9.565 kasus, yang terdiri dari 5.321 kasus AIDS, 4.244 HIV, dan 1.028 penderita meninggal dunia.

Dalam lokakarya menyambut Hari AIDS Sedunia di Jakarta, Selasa (28/11), Dr Rosmini Day MPH mengatakan, estimasi infeksi HIV tahun 2002 antara 90.000 hingga 120.000 kasus. Sedangkan tahun 2006, antara 169.000 hingga 216.000 kasus. Hingga akhir September 2006, ditemukan 6.987 kasus di 158 kabupaten/kota.

Gorila dan penyebaran HIV

Ia mengakui, dalam lima tahun terakhir, terjadi peningkatan epidemi HIV dan AIDS yang sangat cepat di Indonesia, terutama dari kelompok pengguna napza suntik dan perilaku seksual beresiko. Rosmini menggarisbawahi terjadinya kebersinggungan antarkelompok berisiko dan penularan pada kelompok di antaranya yang disebut kelompok jembatan.

Bahkan, pada tingkat dunia para ilmuwan Perancis mulai mendapat titik terang kemungkinan gorila liar pun terinfeksi virus semacam HIV. Penemuan itu mereka publikasikan melalui majalah Nature, edisi 9 November 2006. Awalnya, Dr Martin Peeters, seorang virolog, dan rekannya, Eric Delaporte, dari Institut Pengembangan dan Pengkajian Universitas Montpellier, hanya penasaran dengan soal penyebaran SIV atau simian viral strain.

Rasa penasaran mereka semakin tebal karena virus yang seharusnya hidup di kera atau simpanse ini mulai menjalar pula ke manusia. Persoalannya, ketika berada di tubuh manusia, SIV ini diyakini kemudian akan bermutasi menjadi virus HIV pada tingkat awal.

Untuk menjawab rasa penasaran itu, mereka kemudian mengumpulkan 500 sampel feses dari gorila dan simpanse di pedalaman Kamerun, Afrika. Hasilnya pun cukup mencengangkan. Setidaknya 40 dari 323 feses simpanse itu mengandung antibodi yang beraksi terhadap turunan dari HIV-1. Begitu juga dengan gorila. Minimal enam dari gorila yang mereka tes positif SIV. Secara genetika, virus turunan yang disebut sebagai SIVgor itu itu terkait dengan HIV-1 grup O. Pada manusia, turunan HIV-1 grup O ini menjadi salah satu penyebab infeksi HIV/AIDS di Kamerun dan sekitarnya.

Karena itu, Martin dan Eric mengingatkan pentingnya menghindari kontak langsung dengan hewan-hewan tersebut. “Siapa saja yang suka makan daging simpanse atau gorila, atau bersentuhan langsung dengan daging mereka untuk keperluan pengobatan tradisional, beresiko tertular HIV,” ujar Martin seperti dikutip harian AS, The Washington Post.

Infeksi jamur pada ODHA

Selain itu, akhir-akhir ini frekuensi penyakit jamur atau mikosis pada pasien imunokompromi pun meningkat tajam. Dalam arti, bertambahnya jumlah orang yang terinfeksi virus HIV/AIDS (ODHA), pasien kanker dengan kemoterapi, dan pasien yang dirawat di ruang rawat intensif.

Spesialis Kulit dan Kelamin Dr Sandra Widati SpKK dari FKUI/ RSCM menyatakan, infeksi superfisialis atau infeksi pada permukaan tubuh itu antara lain dapat ditemukan pada infeksi kulit yang disebabkan jamur penyebab panu atau Mallassezia furfur dan kurap karena jamur golongan dermatofita. Infeksi alat dalam dapat disebabkan berbagai spesies jamur, bahkan oleh jamur penyebab panu.

Infeksi jamur dapat disebabkan golongan khamir atau lebih dikenal sebagai golongan ragi dan golongan kapang atau jamur benang. Golongan khamir, misalnya jamur panu dan ragi, penyebab keputihan atau candida. Jamur yang termasuk golongan kapang antara lain aspergillus oryzae yang sering tumbuh pada beras atau roti.

Penyakit infeksi jamur superfisial dapat ditemukan pada individu imunokompeten maupun imuniokompromis seperti pasien terinfeksi HIV. Mikosis superfisialis yang terdapat pada pengidap HIV/AIDS Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI-RSCM umumnya kandidosis oral (52,9 persen) dan kuku (0,6 persen). Penyakit lainnya adalah dermatofitosis kruris atau korporis (3,8 persen) dan kuku (1,3 persen), serta malasseziosis yang disebabkan pityriasis versicolor (4,5 persen).

Golongan khamir yang dapat menyebabkan infeksi sistemik, misalnya candida spp dan cryptococcus neoformans. Hasil penelitian berbeda di Departemen Parasitologi FKUI menemukan, sebanyak 63 persen pengidap HIV/AIDS terinfeksi jamur candida spp pada rongga mulutnya dan 16 persen menderita kriptokokosis selaput otak disebabkan jamur cryptoccus neoformans. Infeksi candida juga dapat menyerang bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan pasien yang dirawat di ruang perawatan intensif.

Selain jamur golongan khamir, jamur golongan kapang, seperti Histoplasma capsulatum, juga dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Jamur ini merupakan jamur patogen sejati yang dapat menginfeksi manusia sehat dan individu imuniokompromi. Pada manusia sehat, penyakit histoplasmosis dapat sembuh sendiri, tetapi dapat jadi reaktivasi bila di kemudian hari pasien itu jadi imunokompromi. Di Indonesia, hal ini terlihat pada pasien terinfeksi HIV yang mengalami disseminated histoplasmosis.

Kasus penyakit jamur, baik superfisialis maupun sistemik, makin bertambah. Sebelum muncul pandemi AIDS, kasus kulit terbatas pada infeksi yang disebabkan jamur panu dan dermatofita, kini kasus mikosis kulit tidak jarang merupakan manifestasi kelainan sistemik yang disebabkan penyebaran jamur penyebab mikosis sistemik kekulit. Hal ini ditemukan pada orang yang terinfeksi HIV, dan dalam frekuensi lebih rendah ditemukan pada pasien non-AIDS yang menjadi imunokompromi karena dirawat secara intensif.

“Menurunnya kekebalan tubuh orang dengan HIV/AIDS menyebabkan mereka mudah terserang berbagai penyakit, mulai dari infeksi jamur, toksoplasma, tuberkulosis, dan kanker,” kata spesialis dalam Prof Zubairi Djoerban SpPD KHOM. Di wilayah DKI Jakarta, lebih dari 50 persen ODHA menderita infeksi jamur dan tuberkulosis. Sedangkan 70 hingga 80 persen dari mereka menderita penyakit hepatitis C.

Infeksi jamur berupa candida akan berakibat fatal bagi ODHA jika sudah menyerang esofagus yang terletak antara mulut dan bagian bawah lambung.

“Dalam kondisi ringan, candida akan menyerang tenggorokan. Tetapi, kalau sudah parah, bisa menyerang organ bagian dalam tubuh manusia,” kata Zubairi.

Agar komplikasi tidak bertambah parah, Zubairi menyarankan perlunya pengobatan antiretroviral dan dengan obat untuk mengatasi komplikasi tersebut. “ODHA yang terkena infeksi jamur harus mengonsumsi ARV ditambah obat antiinfeksi jamur. Masalahnya, kadang kala mereka menderita sejumlah penyakit yang obatnya bisa memperburuk penyakit lain,” tuturnya.
http://kompas.com

Coklat dan kehamilan

Mengkonsumsi coklat selama kehamilan dapat membantu menghilangkan komplikasi serius yang dikenal sebagai pra-eklamsia. Coklat, khususnya coklat hitam, kaya akan bahan yang disebut teobromin yang menstimulasi jantung, merelaksasi otot polos dan memperbesar pembuluh darah, telah digunakan untuk menangani nyeri dada, tekanan darah tinggi dan pengerasan pembuluh arteri.

Pra-eklamsia memiliki banyak ciri umum penyakit jantung, dimana tekanan darah meningkat selama kehamilan sementara kelebihan protein dikeluarkan ke dalam urin.

Untuk mengetahui apakah coklat yang memiliki manfaat pada kardiovaskular kemungkinan juga dapat membantu mencegah pra-eklamsia, para peneliti mengamati 2.291 wanita yang melahirkan bayi tunggal dan menanyakan mereka tentang berapa banyak coklat yang dikonsumsi pada trimester perta ma dan ketiga mereka. Para peneliti juga mengukur kadar teobromin pada darah plasenta janin.

Wanita yang mengkonsumsi banyak coklat dan yang pada janinnya memiliki konsentrasi teobromin tertinggi dalam darah plasentanya tampaknya lebih sedikit mengalami pra-eklamsia. Wanita dengan kadar teobromin plasenta pada seperempat tertinggi memiliki 69% lebih kecil mengalami komplikasi dibandingkan dengan kadar seperempat terendah.

Wanita yang makan 5 atau lebih coklat setiap minggu pada trimester ketiga kehamilan tampaknya 40% lebih sedikit mengalami pra-eklamsia dibandingkan mereka yang makan coklat kurang dari sekali dalam seminggu. Hubungan serupa tapi lebih lemah antara konsumsi coklat dan risiko pra-eklamsia ditemukan pada trimester pertama. Wanita yang makan 5 kali atau lebih cioklat setiap minggu mempunyai risiko 19% lebih rendah dibandingkan mereka yang makan kurang dari sekali tiap minggu.

Menurut Elizabeth W. Triche dan timnya dalam jurnal Epidemiology edisi Mei 2008, teobromin dapat memperbaiki sirkulasi dalam plasenta dan memblok stres oksidatif atau kemungkinan berasal dari bahan kimia bermanfaat lain yang ditemukan dalam coklat.

Menurut para peneliti, hasil ini meningkatkan kemungkinan bahwa konsumsi coklat pada wanita hamil dapt menurunkan kejadian pra-eklamsia. Karena pentingnya pra-eklamsia sebagai komplikasi utama kehamilan, diperlukan pengulangan hasil ini dengan studi prospektif lebih besar dengan pengujian konsumsi coklat lebih detil.

Vaksin TB yang baru

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Saint Louis dan baru-baru ini diterbitkan dalam Journal of Infectious Diseases online 15 November 2008, vaksin pencegah tuberkulosis (TB) yang baru memicu respon kekebalan yang lebih kuat dibandingkan vaksin standar Bacille-Calmette Guerin (BCG).

Para peneliti menciptakan vaksin rekombinan yang baru dengan memakai jenis bakteri TB yang dilemahkan dari sejenis vaksin BCG. Sebagai tambahan, vaksin baru memakai antigen dari jenis TB yang ganas untuk memusatkan sistem kekebalan menghambat bakteri TB. Untuk penelitian ini, Daniel Hoft, direktur departemen imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Saint Louis dan rekan memberi vaksinasi pada 17 peserta penelitian dengan vaksin BCG dan 18 peserta penelitian dengan vaksin baru. Para peneliti membandingkan lima fungsi kekebalan yang terdampak oleh vaksin tersebut dan menemukan bahwa vaksin baru memicu tanggapan kekebalan yang lebih kuat dibandingkan vaksin BCG. Penelitian ini juga menemukan bahwa vaksin baru adalah aman dan dapat ditahan dengan baik. Menurut Hoft, temuan tersebut memberi kesan bahwa vaksin baru “akan lebih efektif untuk melindungi terhadap TB” dibandingkan vaksin BCG.

Para peneliti tidak akan melakukan tes lebih lanjut dengan vaksin tersebut karena vaksin itu mencakup gen yang resistan terhadap antibiotik yang dapat menimbulkan masalah apabila vaksin dilakukan. Namun para ilmuwan akan melakukan tes pada vaksin rekombinan yang serupa yang menunjukkan antigen TB yang sama dan antigen TB lain tetapi tidak memiliki gen yang resistan. Menurut Hoft, vaksin yang kedua mungkin dapat lebih manjur dibandingkan vaksin yang baru dites dalam penelitian ini. “Vaksin yang baru secara teoretis tidak hanya melindungi terhadap pertumbuhan yang luar biasa oleh organisme TB, tetapi dapat membunuh organisme yang tersisa setelah seseorang menjadi terinfeksi. Itulah harapannya,” Hoft mengatakan.

Sunat Pria menurunkan risiko kanker serviks

Tiga studi yang baru dipublikasikan bulan Desember menambah bukti bahwa sunat dapat melindungi pria dari virus AIDS yang mematikan dan virus yang menyebabkan kanker leher rahim (serviks). laporan yang dimuat di dalam Journal of Infectious Disease tampaknya menambah debat apakah pria dan anak laki-laki harus disunat untuk melindungi kesehatan mereka dan mungkin kesehatan pasangan mereka (istri) nantinya.

Dr. Bertran Auvert dari University of Versailles di Perancis dan koleganya di Afrika Utara menguji lebih dari 1.200 pria yang mengunjungi klinik di Afrika Utara. Mereka menemukan kurang dari 15% pria disunat dan 22% pria tidak disunat terkena infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yang menyebabkan kanker serviks dan kutil kemaluan. Menurut mereka, temuan ini menjelaskan mengapa pasangan wanita yang disunat berisiko lebih rendah terkena kanker serviks dibandingkan wanita lain.

Satu paper lagi pada pria di Amerika memberikan hasil yang kurang jelas, namun Carrie Nielson dari Oregon Health & Science Univerisity dan koleganya menemukan beberapa indikasi bahwa sunat kemungkinan melindungi pria. Pria disunat yang terkene HPV kira-kira setengahnya dari pria yang tidak disunat, setelah disesuaikan dengan perbedaan antara kedua kelompok.

Dalam laporan ketiga, Lee Warner dari US Centers for Disease Control and Prevention dan koleganya menguji pria Afro Amerika di Baltimore dan menemukan 10% dari mereka yang berisiko tinggi terinfeksi HIV ternyata disunatdibandingkan dengan 22% dari mereka yang tidak disunat.

Studi yang mendukung penurunan penyebaran HIV telah dilakukan di Afrika dan Amerika masih kurang jelas. Dr. Ronald Gray dari John Hopkins University di Baltimore dan koleganya menamukan bahwa laporan ini menarik. Di Amerika, sunat jarang dilakukan pada pria Afro Amerika dan Hispanik yang termasuk subkelompok paling berisiko HIV. Jadi, sunat dapat dijaikan perlindungan tambahan terhadap HIV pada kelompok minoritas berisiko ini. Saat ini, American Academy of Pediatrics (AAP)belum merekomendasikan sunat bagi bayi baru lahir. Angka penyunatan di Amerika menurun, kemungkinan karena tidak termasuk program Medicaid. Medicaid adalah program asuransi kesehatan negara bagian Amerika bagi orang miskin dan cacat.

Infeksi Menular Seksual dan depresi

Depresi adalah umum pada orang dengan infeksi menular seksual (IMS). Hal ini dilaporkan para peneliti Kanada dalam jurnal Sexually Transmitted Infections edisi Desember 2008. Para peneliti berpendapat bahwa harus dirancang program penanganan depresi pada pasien dengan IMS.

Pengobatan IMS merupakan aspek penting untuk pengendalian dan pencegahan depresi. Diagnosis IMS dapat menjadi peristiwa trauma secara emosional yang dapat mengakibatkan pengembangan depresi. Lebih lanjut, munculnya depresi dapat berarti bahwa pasien dengan gejala IMS tidak mencari pengobatan dan perawatan, atau mengambil langkah untuk mengobati diri untuk kesehatan seksual mereka sendiri atau orang lain.

Menentukan hubungan antara depresi dan IMS dapat memiliki dampak kesehatan masyarakat yang penting, sehingga para peneliti Kanada memeriksa prevalensi IMS dan depresi pada masyarakat umum.

Ini merupakan penelitian besar yang melibatkan 21.500 peserta yang ambil bagian dalam survei Canadian Community Health pada 2003. Seluruh peserta berusia antara 15 dan 49 tahun. Survei itu mencakup pertanyaan tentang demografi, perilaku seksual, riwayat penyakit menular seksual, status perkawinan, dan penggunaan alkohol serta tembakau.

Secara keseluruhan, 5% responden memiliki riwayat IMS dan 8% melaporkan depresi. Dibandingkan dengan perempuan, laki-laki kurang mungkin melaporkan IMS (5% banding 6%) dan depresi (6% banding 10%).

Pada laki-laki, IMS meningkatkan risiko depresi secara keseluruhan sebanyak 50% (rasio odds yang disesuaikan[AOR], 1,5; confidence interval [CI]: 95% 1,1-2,2). Para peneliti menemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara depresi dan IMS pada laki-laki berusia di bawah 35 (p <>

Bahan Kimia pada pabrik produk karet dapat menyebabkan kanker

Menurut penelitian yang dipublikasikan di dalam Occupational and Enviromental Medicine 2009, bahan kimia yang biasa digunakan dalam pabrik produk karet dapat menyebabkan kanker pada pekerja yang terpapar secara reguler.

Para peneliti mendasarkan temuan mereka pada temuan angka perkiraan lebih tinggi pada kanker-kanker tertentu dan kematian dari penyakit diatara para pekerja pabrik kimia karet di North Wales.

Mereka melihat paparan khusus pada bahan kimia yang disebut 2-merkaptobenzotiazol (MBT = 2-mercaptobenzothiazole) yang telah dimasukkan pada penelitian sebelumnya sebagai bahan penyebab kanker (karsinogen).

Mereka melihat angka kematian karyawan, yang bekerja pada pabrik paling sedikit 6 bulan, antara tahun 1955 dan 1984 serta diagnosis kanker antara tahun 1971 dan 2005. Diantara 2.160 karyawan, 363 bekerja di tempat yangn kemungkinan terpapar MBT.

Kebanyakan para pekerja ini pertama kali terpapar bahan kimia ini lebih dari 1 dekade lalu, selama tahun 1030, 40 dan 50. Pada akhir tahun 2005, 222 karyawan ini meninggal dan 139 ditelusuri masih hidup. Berdasarkan statistik nasional angka perkiraan kematian, pekerja yang terpapar pada MBT 2 kali lebih banyak meninggal akibat kanker usus besar dan kandung kemih.

Ketika dibandingkan dengan 1.797 pekerja yang tidak terpapar MBT selama pekerjaannya, terlihat bahwa risiko kanker usus besar dan mieloma ganda meningkat secara nyata sebanding jumlah paparan MBT.

Para peneliti menyimpulkan kemungkinan MBT harus ditangani leb ih hati-hati karena dapat menjadi karsinogen bagi manusia.

Asam Amino dapat mencegah hipotermia

Hubungan antara penggunaan asam amino dan proses termogenesis untuk mencegah terjadinya hipotermia sepertinya ada hubungannya, meskipun sampai saat ini belum diketahui secara jelas. Penelitian terus dilakukan untuk mengklarifikasi hal ini, termasuk hipotesis yang menyebutkan bahwa infus asam amino dapat menstimulasi berbagai hormon diantaranya Insulin dan Leptin selain dapat menambah energi yang mana hasil akhirnya akan menunjukkan efek termogenesis.

Sebelum penelitian dilakukan pada manusia, pernah diteliti dengan tujuan yang sama yaitu pada hewan, dimana hewan tikus yang dipakai dalam penelitian diberikan asam amino parenteral dan kemudian dilakukan operasi dan kemudian diamati dengan kalorimetri. Pemberian nutrisi asam amino parenteral pada hewan tikus, sepertinya terbukti dapat menginduksi proses termogenesis setelah tikus diinjeksikan secara intraperitonealnya dengan asam amino yang mengandung Leucin dan Glycine. Hingga pada kesimpulan akhir didapatkan bahwa pentingnya penggunaan asam amino Leucine untuk meningkatkan respon termogenesis.
Penelitian tentang efek asam amino terhadap peningkatan energi dan termogenesis mulai dilakukan pada manusia, yaitu dengan mengikutsertakan 24 pasien yang secara acak mendapatkan asam amino dengan perhitungan kalorinya sebesar 4 kJ·kg−1·h−1 yang dibandingkan dengan pemberian salin, dimana diinfuskan selama 2 jam operasi by pass arteri koroner dengan metode “off-pump”(OPCABS).

Pemeriksaan yang dilakukan selama pemberian asam amino adalah adrenalin dalam arteri, hormon tiroid, insulin dan leptin yang diperiksa pada menit ke 5 sejak dimulainya operasi, konsumsi Oksigen juga dilakukan mengukuran 3 jam setelah infus diberikan.

Hasil yang didapat menunjukkan bahwa pemberian asam amino mampu memelihara termperatur tubuh selama operasi dengan metode OPCABS. Efek ini ada hubungannya dengan peningkatan konsumsi Oksigen yang mana sangat bergantung dengan peningkatan denyut jantung. Pemberian asam amino secara infus menstimulasi hormon Insulin dan Leptin dimana dari hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar insulin meningkat secara cepat dalam 2 jam setelah dimulainya pemberian infus, begitu juga dengan hormon leptin juga mengalami peningkatan secara bertahap lebih dari 6 jam sejak pemberian infus.

Pemberian asam amino sepertinya memberikan makna dalam meningkatkan temperatur tubuh dan memenuhi kebutuhan Oksigen selama operasi, dan hormon Insulin serta Leptin sepertinya juga bisa dihasilkan sebagai repson dari pemberian asam amino. Asam amino yang diberikan secara infus dapat mengkontribusi respon termogenik selama operasi.

Penelitian mengenai peranan asam amino untuk meningkatkan termogenesis dan pengeluaran energi juga pernah diteliti di Turki, dimana penelitian ini menggunakan 24 pasien di ICU dan pasien yang ikut serta dinyatakan telah mengalami “brain dead” dan semua pasien menggunakan ventilator. Penelitian ini sengaja dilakukan untuk menghitung pengeluaran energi yang dikalkulasi dengan rumus Harris & Benedict untuk semua pasien. Semua pasien diberikan standart nutrisi yang telah ditetapkan yaitu dengan pemberian asam amino dengan “infusion pump”, pemberian nutrisi enteral diberikan setelah nutrisi parenteral selama 4 jam selesai. Komposisi nutisi Asam Amino yang diberikan adalah asam amino rantai cabang (BCAA). Dari hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa efek termogenesis dari asam amino dapat ditiadakan jika pasien mengalami “brain dead”, jadi bagaimanapun juga efek termogenesis dan pengeluaran energi dari penggunaan asam amino masih membutuhkan respon dari susunan saraf pusat.

Baik dan buruknya minum kopi


Ada berita baik dan berita buruk buat para penggemar kopi yang menghabiskan waktu bekerja sampai malam hari dengan 1-3 cangkir kopi. Berita baiknya adalah bahwa minum kopi dapat menurunkan risiko perkembangan penyakit Alzheimer dan tipe demensia lain di kemudian hari. Demikian kesimpulan studi yang dipublikasikan dalam Journal of Alzheimer's Disease pada bulan Januari 2009.

Para peneliti di Finlandia dan Swedia mempelajari para survivor dari the North Karella Project dan studi the FINMONICA yang rata-rata sudah 21 tahun. The North Karella Project dan studi the FINMONICA adalah dua studi penelitian besar mengenai penyakit kardiovaskular dimulai tahun 1970 dan tahun 1980 secara berurutan.

Di dalam analisis data, konsumsi kopi ketika para partisipan pertama kali bergabung dibandingkan dengan insiden demensia saat follow up. Ditemukan bahwa individu yang minum antara 3-4 cangkir kopi sehari memiliki 65% risiko rendah mengalami demensia atau penyakit Alzheimer.

Tidak ada indikasi dalam data publikasi jenis apa konsumsi kopi oleh para partisipan, sehingga tidak mungkin untuk mengatakan bahwa kopi ekspreso lebih protektif dibandingkan kopi latte misalnya. Walau demikian, studi lebih jauh diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil ini.

Data menjelaskan bahwa intervensi diet kemungkinan memodifikasi risiko Alzheimer. Tidak hanya itu, juga mengidentifikasi mekanisme bagaimana kopi membuat efek perlindungan yang mengarahkan pengembangan terapi baru untuk penanganan penyakit ini.

Berita buruknya adalah minum kopi terlalu banyak dapat meningkatkan risiko halusinasi. Menurut studi yang dilakukan di Inggris, ada korelasi antara pelepasan kortisol dalam merespon stres dan timbulnya halusinasi. Karena kafein ditemukan meningkatkan respon kortisol terhadap stres, para peneliti dari University of Durham membandingkan asupan kafein diatara kelompok siswa yang mengalami halusinasi dan menemukan adanya korelasi ini.

Studi ini terbatas jumlahnya, seperti ukuran sampel yang kecil dan kurangnya kotrol yang mungkin menjadi faktor pendamping dan dalam beberapa kasus efek yang dilaporkan kecil sekali. Jadi, mungkin aman untuk terus minum kopi dalam jangka waktu lama. Tidak harus khawatir tentunya buat yang minum teh.

Antibodi Penawar dari Ibu tidak Mencegah Penularan HCV pada Bayi

Para peneliti melaporkan di dalam Journal of Infectious Diseases edisi 1 Desember 2008 bahwa perempuan yang koinfeksi HIV dan virus hepatitis C (HCV), tingkat antibodi penawar (neutralizing antibody/nAb) hepatitis C tampaknya tidak berkaitan langsung dengan risiko penularan dari ibu-ke-bayi.

“Antibodi penawar dapat mencegah infeksi virus,” Dr. Stuart C. Ray, peneliti senior mengatakan pada Reuters Health. “Kami menemukan tingkat nAb HCV yang sangat rendah pada perempuan yang koinfeksi HIV dan HCV waktu melahirkan, tetapi di antara perempuan tersebut kami tidak menemukan bahwa tingkat nAb memprediksi penularan HCV pada bayi yang baru lahir.”

Dr. Ray dari Fakultas Kedokteran Johns Hopkins, Baltimore, dan rekan mengambil kesimpulan tersebut setelah meneliti 63 ibu yang koinfeksi HIV dan HCV.

Enam belas perempuan menularkan HCV kepada bayi mereka, tetapi tidak ada perbedaan yang terdeteksi antara kemampuan menawar partikel pseudo HCV heterologus pada plasma darah ibu yang menularkan dan tidak menularkan.

Para peneliti menyimpulkan bahwa “tidak ada bukti bahwa nAb HCV dikaitkan dengan penularan HCV dari ibu-ke-bayi.”

Namun, Dr. Ray menambahkan, “belum diketahui apakah perlindungan mungkin disediakan oleh tingkat nAb yang lebih tinggi, sebagaimana yang umumnya ditemukan pada perempuan HIV-negatif yang memiliki HCV – yang jarang menularkan HCV kepada bayi mereka yang baru dilahirkan.”

Tekanan darah tinggi (Hypertension)

Kondisi dimana pembuluh darah menyempit, menyebabkan tekanan darah terhadap dinding pembuluh darah meningkat. Jantung menjadi bekerja lebih keras. Kondisi ini dapat menyebabkan resiko stroke, serangan jantung, gagal ginjal, gagal hati.

Tekanan darah tinggi disebut juga "Silent Killer".

Tekanan darah di pengaruhi 2 faktor utama:
  1. Jumlah darah yang di pompa jantung
  2. Diameter pembuluh darah (arteri)

makin banyak darah yang dikompa dari jantung, dan semakin sempit diameter pembuluh darah, makin tinggi tekanan darah.

Ginjal memegang peranan penting dalam mengatur tekanan darah. Ginjal menghasilkan hormon renin, yang dapat mempengaruhi arteri menyempit. Ginjal juga mengatur jumlah cairan yg dalam darah, dengan cara mengatur kadar garam dalam darah. Ketika kadar garam dalam darah tinggi, ini akan menarik air kedalam darah, makin banyak kadar garam dalam darah, makin banyak air yang ditarik kedalam darah, makin besar volume darah yang mengalir dalam arteri. Maka makin tinggi tekanan darah dalam arteri.

Para ilmuwan masih belum menemukan dengan pasti penyebab hipertensi. Hampir 95% kasus hipertensi penyebabnya tidak dapat diidentifikasi. Para ilmuwan mencurigainya sebagai masalah keturunan alias genetik. 5% kasus lainnya, hipertensi disebabkan masalah pada masalah ginjal atau masalah dengan hati, atau juga karena ada efek samping dari pengobatan.

Faktor lain yang juga mempengaruhi hipertensi adalah gaya hidup. Diet garam (mengatur asupan kadar garam dalam makanan), Aktifitas tubuh (olah raga), Obesitas dan Konsumsi alkohol merupakan faktor yang mempengaruhi hipertensi.

Stroke

Pendahuluan

Stroke, kerusakan pada otak yang disebabkan karena kurang atau tidak lancarnya peredaran darah ke otak atau bagian otak tertentu. Untuk melakukan banyak fungsi dan aktifitas pada tubuh, otak memerlukan asupan energi yang terartur, berupa oksigen dan nutrisi yang dialirkan melalui jaringan darah. Jika aliran darah terganggu atau terputus antara otak dan jantung, bagian otak yang tergantung pada jaringan darah akan kekurangan oksigen. Sel otak sangat sensitif akan kekurangan oksigen, jika otak kekurangan oksigen dan nutrisi lebih dari beberapa menit, hal ini dapat menyebabkan kematian. Stroke dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan otak, dimana hampir semua kasus, menyebabkan cacat permanent pada penderita.

Contoh, pasien yang mengalami stroke dapat mengalami paralysis (hilang kebebasan dalam bergerak pada anggota tubuh) pada satu atau kedua sisi dari tubuh, kesulitan untuk berjalan, makan atau aktifitas harian lainnya, juga kehilangan kemampuan untuk berbicara (kesulitan untuk menggerakkan bibir).

Stroke menduduki ranking ke 3 dalam menyebabkan kematian dan penyebab cacat di Amerika Serikat. Menurut American Heart Association, hampir 700.000 orang Amerika menderita stroke setiap tahunnya. Sekitar 25 persen mengalami stroke fatal. Hampir setiap 45 detik terjadi serangan stroke dan hampir setiap 3.1 menit seseorang meninggal karena stroke. Stroke telah menghabiskan sekitar $40 Juta USD untuk biaya kesehatan dan hilangnya produktifitas tiap tahunnya.


Jenis Stroke
Pembuluh darah dapat dibayankan berbentuk tube silender elastis (seperti selang air atau sedotan). Aliran cairan dalam selang dapat terganggu oleh 2 hal:
  • Adanya halangan didalam saluran
  • Adanya tekanan dari luar saluran
Hal yang sama dapat terjadi pada aliran darah di pembuluh darah. 2 jenis utama dari stroke, ischemic stroke dan hemorrhagic stroke berdasar mekanisme terganggunya aliran darah yang dijelaskan diatas.

Ischemic strokes, mengambil posisi 80 persen dari kasus stroke, disebabkan adanya halangan (obstruksi) pada arteri, umumnya pada carotid arteri, ateri utama pada leher yang membawa darah kaya oksigen dari jantung ke otak. Terjadinya ischemic stroke dimulai ketika atherosclerosis (gangguan pada ateri, terjadi penebalan dan hilangnya kelenturan arteri), dimana terjadi penumpukan lemak pada dinding dalam arteri (dalam hal ini carotid arteri). Seiring bertambahnya penumpukan lemak pada arteri, makin sempit juga ruang untuk darah mengalir.
Atherosclerosis tidak secara langsung menjadi penyebab ischemic strokes, tetapi dapat mengkondisikan terjadinya ischemic strokes. Obstruksi atau pemampatan yang sebedarnya adalah gumpalan darah. Obstruksi terjadi oleh proses yang disebut thrombosis (struktur dari darah). Gumpalan terbentuk pada atherosclerotic karena tumpukan pada atherosclerotic menghambat aliran darah. Gangguan ini dapat menyebabkan darah menggumpal seperti halnya darah membeku dan menggumpal pada luka pada kulit kita. Ketika darah menggumpal di atherosclerotic dan memutus aliran darah ke otak, terjadilah stroke.

Ischemic stroke dapat juga disebabkan berpindahnya gumpalan atau embolus (pemampatan aliran darah oleh embolus, atau substansi asing, seperti gumpalan darah, udara, lemak, bakteri, sel tumor). Dalam hal ini, gumpalan terjadi di suatu tempat, biasanya di salah satu ruang pada jantung. Gumpalan kemudian bergerak melalui aliran darah hingga menemui saluran pembuluh darah yang terlalu sempit baginya untuk lewat (dan seringnya penyempitan ini terjadi karena atheroclerosis).

Transient Ischemic Attack (TIA), kadang kala terjadi sebelum ischemic stroke. TIA, dikenal juga sebagai ministroke, symptomp seperti stroke yang kemudian hilang dalam waktu 5 menit hingga 24 jam. TIA terjadi dikarenakan gumpalan terjadi pada atherosclerotic tetapi dihancurkan seketika, atau embolism yang tersangkut pada pembulan darah yang kemudian lepas dengan sendirinya. TIA juga dapat disebabkan oleh atherosclerosis dimana penyempitan pembuluh darah oleh atherosclerosis menghalangi aliran darah ke otak. Hampir 10 persen ischemic stroke diawali serangan TIA.

Hemorrhagic strokes, mengambil sisanya yaitu sebanyak 20 persen dari kasus stroke. Terjadi ketika melemahnya pembuluh darah pada otak mengalami pendarahan pada jaringan sekitarnya. Keluarnya darah dapat menekan pembuluh darah terdekat, memutus aliran darah dan berkurangnya pasokan oksigen pada jaringan sekitar. Meskipun hemorrhagic strokes lebih jarang terjadi dibanding ischemic strokes, namun memberikan efek yang luas pada otak. Symptom dari hemorrhagic stroke mungkin lebih mendadak dan berbahaya, dan resiko kematian lebih tinggi dibanding ischemic strokes.
Hemorrhagic stroke dapat disebabkan oleh aneurysm (melemah dan menipisnya jaringan pembuluh darah, pembuluh darah mengembung kearah luar). Jika dibiarkan, aneurysm akan terus mengembang dan melemah, meningkatkan resiko sobeknya jaringan. Hemorrhagic strokes juga dapat terjadi karena arteriovenous malformation (AVM), sekumpulan jaringan darah yang lemah yang terjadi saat proses melahirkan atau bayi masih didalam rahim. Jaringan darah yang bermasalah ini diperkirakan terjadi karena tekanan aliran darah.


Gejala dan konsekuensi dari stroke
Gejala stroke itu dapat dikatakan tidak terduga dan terjadi dengan tiba-tiba, dan dapat semakin memburuk dalam hitungan jam atau hari. Gejala umumnya berakibat pada satu sisi dari tubuh, karena aliran darah yang terputus hanya untuk bagian otak. Gejala yang paling umum adalah melemahnya dan hilang rasa (kebas) pada salah satu sisi dari muka atau tangan atau kaki. Pada beberapa kasus dapat mengakibatkan gangguan penglihatan, umumnya satu mata. Juga dapat mengalami sulit berbicara, sulit mengerti alur percakapan. Rasa sakit kepala yang tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya, rasa pusing yang tidak diketahui penyebabnya juga dapat menjadi tanda-tanda terjadinya stroke. Bila mengalami gejala diatas, hubungi pihak medis untuk melakukan medical checkup.

Penderita stroke kebanyakan mengalami cacat permanent yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, seperti berjalan, berbicara, penglihatan, pengertian, dan ingatan. Efek spesifik sangat tergantung bagian mana dari otak yang mengalami kekurangan oksigen. Sebagai contoh, jika aliran darah yang terputus adalah yang menuju bagian otak yang mengatur syaraf bicara, stroke akan menyebabkan penderita tidak bisa berbicara atau pengucapan yang tidak jelas. Kesulitan dalam mengekspresikan dalam perkataan ataupun tulisan, gangguan dalam mengerti inti percakapan.

Jika stroke merusak bagian otak yang mengatur kemampuan gerak, penderita akan mengalami kesulitan dalam berjalan, menggerakkan tangan. Dan biasanya terjadi pada salah satu sisi tubuh, kiri atau kanan. Selain masalah fisik, stroke memberi efek pada psikologi, orang yang mengalami stroke lubah mudah depresi, marah, frustasi karena sulitnya untuk melakukan tugas dimana sebelum stroke semuanya sudah berjalan dengan normal dan otomatis.


Link yang berhubungan dengan stroke
http://www.ninds.nih.gov/disorders/stroke/stroke.htm
http://www.americanheart.org/presenter.jhtml?identifier=4755

sumber : encarta 2007