loading...
Tampilkan postingan dengan label Success Profile. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Success Profile. Tampilkan semua postingan

Rabu, 2009 April 01 Kisah sukses perempuan networker, S2 nya memilih Tianshi

Niat awalnya, setelah menempuh pendidikan strata 1, ia akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, tiba-tiba temannya menawarkan bisnis MLM, Tianshi. Ia pun tertarik, bergabung dan bergelut di bisnis jaringan Tianshi. Dan setelah dua tahun menjalani bisnis ini, ia akhirnya memperoleh bonus BMW. "Ini kado spesial buat buah kasih tercinta," ujarnya.

Wajahnya tampak terlihat gembira. Tak sedikitpun terlihat keletihan. Padahal saat itu, Rina Primiany, demikian nama wanita ini, sedang mengandung anak pertama dari pernikahannya dengan Muhammad Safri. Harap maklum, Rina sekian diantara perempuan networker Tianshi yang menerima bonus mobil BMW. "Ini merupakan kado spesial buat si buah hati," ujar perempuan asal Makasar, Sulawesi Selatan, dengan sukacita.

Perempuan kelahiran 6 Mei 1979 ini mengaku saat pertama kali menjalankan bisnis Tianshi banyak menemui tantangan dan hambatan. Misalnya, ditolak, dicemooh keluarga, diremehkan teman-teman dan dipandang sebelah mata. Tapi, setelah mendapatkan BMW, "semua terbayar sudah," ucapnya dengan mata berbinar-binar. Paling penting, keputusannya untuk tidak melanjutkan ke jenjang S2, tidak sia-sia. Sebab, pilihannya "berlabuh" di Tianshi, ternyata membuahkan hasil.

"Memang, waktu itu, setelah lulus kuliah,ingin melanjutkan ke S2. Tapi ada teman kuliah menawarkan bisnis Tianshi," kenangnya. Dua pilihan ini dirasakannya sangat sulit. Alasannya, seperti dikatakan Rina, kelak setelah lulus S2 yang digeluti selama 2 tahun, belum menjamin mendapatkan pekerjaan. Justru sebaliknya, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan berbagai alasan, terus saja terdengar dimana-mana.

"Di Tianshi 2 tahun saja bisa mendapatkan masa depan yang lebih bagus," tuturnya. Itulah yang membuatnya memilih Tianshi ketimbang melanjutkan ke jenjang pendidikan S2. Dalam 2 tahun ia menjalani bisnis Tianshi, ia telah mencapai peringkat bintang 8, mengantarkannya meraih bonus mobil BMW. "BMW ini sekaligus merupakan tantangan bagi saya untuk mencetak jaringan agar dapat BMW juga," uangkap Rina, seraya menyebut jumlah jaringannya terbanyak ada di Makasar.

Bersama suaminya yang baru bintang 7, Rina yakin akan banyak dari grupnya akan mendapatkan BMW. Makanya, perempuan berjilbab ini tidak ragu menyandarkan masa depannya di Tianshi. "Sudah banyak bukti dan tidak perlu ragu", jelasnya. Tak hanya itu, dimasa mendatang, Rina memastikan kiprah perempuan di network marketing pun akan semakin bertambah. Sebab berdasarkan pengalamannya selama ini, bisnis ini banyak memberikan kemudahan bagi kaum perempuan.

Sebut saja soal modalnya yang relatif murah. "Lho, ketimbang membuat usaha yang modalnya besar, tak ada salahnya memilih network marketing (bisnis jaringan)," urainya. Nah, karena modalnya murah, resiko yang timbul juga relatif kecil. Belum lagi waktunya yang fleksibel, tidak direpotkan dengan urusan membagi karir dan kodrat selaku ibu rumah tangga. "lagipula produknya dapat digunakan untuk kita dan keluarga," jelas Rina. (AL)

Sumber: BisnisPlus

Kisah sukses dokter perempuan yang terjun ke dunia network marketing

Walau profesinya dokter praktek, mereka tidak alergi menggeluti bisnis jaringan, bahkan ada diantaranya yang menggondol BMW.

Buku The New Professionals - The Rice of Network Marketing As The Next Major Profession, ditulis oleh Prof. Dr. Charles King- Seorang akademisi pemerhati network marketing dari University of Illinois - memang tidak keliru. Maklumlah, buku tersebut menyatakan bahwa network marketing tetap menjadi trend dan menarik bagi kalangan profesional. Buktinya, bisnis ini menjadi lahan empuk kalangan profesional dalam mengais rejeki menjadi jutawan. Ada bankir, pengusaha, dosen, dokter dan lain sebagainya.

Yang paling mencolok, kiprah para dokter di bisnis ini. Mereka tak sekedar menjadi konsultan medis, menjadi pebisnisnya (networker), tetapi juga merambah menjadi pemilik. Maklumlah, jika tinjauannya pada produk health food, network marketing memang sangat dekat dengan profesi dokter. Setidaknya, kiprah dokter disini adalah preventif dan promotif, sesuatu hal yang dapat dipelajari oleh kaum awam.

Luar biasanya, walau disibukkan oleh aktivitas profesinya, para dokter pun tak mau menjadi penonton di dunia bisnis jaringan ini. Mereka menunjukkan taji-nya dengan mendulang penghasilan dan prestasi. Contohnya 3 dokter perempuan yang sukses diTianshi: Dr Yanthi Naunghelarta, Dr Yani Laksitawati dan Dr Wien Daryoko. Ketiganya berhasil menggondol BMW dari perusahaan MLM Tianshi.

Bagi Dr Yanthi, BMW itu sulit diperoleh jika hanya mengandalkan profesi selaku dokter praktek. Maklumlah, seperti dikatakan pakar kebebasan finansial dalam bukunya Cahflow Quadrant, penghasilan dokter ditentukan diri sendiri (bekerja untuk uang), bukan uang yang bekerja untuk kita.

Tapi, bukan berarti penghasilan dokter tidak cukup lho. Lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” tutur Yanthi, yang memperoleh BMW di Berlin tahun 2002 lalu. Alumnus Universitas Indonesia ini menyebut dirinya tercebur ke network marketing gara-gara produk Tianshi, yang dpaat membantu menormalisir penyakit suaminya yang menderita bronchitis akut.

Soal produk juga dibenarkan oleh Dr Rani. Ia mengakui produk Tianshi merupakan produk Cina yang diambil dari ramuan China kuno dan banyak membantu menormalisir pelbagai penyakit. Sebagai contoh, ia menyebutkan bahwa seorang satpam di dekat rumahnya mengalami kecelakaan, tangannya patah. Saat berobat ke tempat prakteknya, Rani, demikian panggilan akrabnya, memberikan kalsium satu sachet. Eh, esok harinya, satpam tersebut meminta kalsium lagi.

Satpam itu mengaku rasa nyeri ditangannya berangsur-angsur pulih” ungkap Rani. Sejak saat itu, Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, ini mulai kepincut dengan Tianshi, mengingat produknya berguna bagi banyak orang. Bahkan tak hanya itu, Rani pun menggunakan produknya sebagai alat bantu menyehatkan.

Hasilnya tak sia-sia, Rani dan rekan sejawatnya, Dr wien, berhasil membawa pulang BMW, mengikuti jejak Dr Yanthi. Tak hanya itu, Rani pun menyembul dengan peringkat Silver Lion, peringkat tertinggi yang dicapai buat para dokter yang menggeluti bisnis jaringan di Tianshi. Dr Anita, setelah berjuang tiga tahun, kini memetik hasilya. Ia pun berhasil meraih BMW 3 tahun lalu. “Wah senangnya. Sepertinya rasa capai dan lelah itu hilang,” jelasnya, seraya menilai network marketing itu cocok bagi perempuan, khususnya ibu rumah tangga.

Dari Sun Hope, tercatat nama Andi Sukmawaty Latief. Dokter gigi jebolan Universitas Hasanuddin, Makasar, Sulawesi selatan, ini mencapai peringkat Diamond Director. Ia terjun ke bisnis jaringan ini, tak jauh berbeda dengan dokter perempuan lainnya: gara-gara produk. Jaringannya melebar ke pelbagai daerah, dan termasuk para dokter juga, seperti spesialis anak, jantung dan lain sebagainya.

Jujur saja, apa yang saya peroleh saat ini, melebihi dari gaji saya sebagai pegawai negeri,” tegas Sukmawaty, yang bertugas di bagian administrasi sebuah Puskesmas di Jakarta. Tapi, berdasarkan marketing plan, akumulasi bonusnya dengan peringkat Diamond Director mencapai Rp 270 juta. Ia mengatakan, jika tak menggiurkan, tak mungkin bertahan sampai 9 tahun di network marketing tersebut.

Bagi para dokter perempuan, ada beberapa hal yang diraih di binsis ini. Pertama, menyehatkan dan mensehakterakan masyarakat, baik lewat produk maupun peluang bisnisnya. Kedua, meningkatkan kesejahteraan kesejahteraan keluarga. Sebab, walaupun profesi dokter memiliki income yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, namun kebutuhan terus meningkat, termasuk juga soal impian hidup.

Nah, kebetulan bisnis ini menciptakan asset dan passive income“, tegas Yanthi, seraya menyebut ongkos di network marketing relatif murah, sehingga dapat dijadikan “kendaraan” merubah hidup, termasuk bagi para ibu rumah tangga lainnya dalam menata masa depan yang lebih berkualitas.

Sumber: Artikel di majalah Bisnis Plus

Kisah sukses para perempuan di bisnis jaringan Tianshi

Para perempuan yang sukses di bisnis jaringan Tianshi ini terdiri dari berbagai lapisan strata sosial. Ada yang memulainya sejak kuliah, ada yang ibu rumah tangga, single parent, istri pengusaha, bahkan ada yang mantan TKW. Apa resep mereka untuk sukses di dunia MLM tersebut?

Asiya, mantan TKW di hongkong berhasil mendapatkan pemghargaan berupa mobil BMW. Wanita yang tingal di jakarta ini mengaku terharu dan bangga. Semuanya berbaur menjadi satu, sehingga sulit diungkapkan dengan kata-kata. Asiya, ibu satu anak ini, bekerja dengan tekun mengembangkan jaringannya di Tianshi, dan dalam dua tahun pertama sejak ia bergabung, jaringannya sudah mengembang ke Hongkong, Korea, Indonesia, Taiwan dan Malaysia. Di taksir jumlahnya mencapai 5.000 orang dan kebanyakan juga adalah TKW.

Saya memang sengaja merekrut mereka, karena ingin mengangkat harkat dan martabat mereka”, ujarnya terharu. Ia merasakan getirnya sebagai TKW, lebih-lebih mereka yang bekerja di luar negeri. BMW itu diharapkan menjadi inspirasi bagi para TKW untuk merubah hidup. “Karena di bisnis ini, kesuksesan tidak dilihat dari larat belakang pendidikan,” tegas Asiya.

Diah Safitri, teman sekampung Fei Fei, Yogyakarta, juga tidak mau ketinggalan. Daftar koleksi penghargaannya bertambah lagi. Setelah BMW serie 3, ibu dua anak yang menyandang anak yatim sejak usia 4 tahun ini, merebut kapal pesiar. Diah, adalah perempuan networker terkaya yang dicetak Tianshi untuk kota Pelajar itu. Maklumlah, mobil mewahnya bukan hanya BMW, juga ada Mercedez Benz E 320, Mitsubishi Galant V6 Modifikasi, punya beberapa bidang tanah dan mempunyai stokis yang terbilang mewah, di Jalan Timoho. Dan yang luar biasanya, semuanya berasal dari bonus yang diperolehnya setiap bulan - minus BMW.

Nah, dengan menyabet kapal pesiar, di yakini pundi-pundi kekayaan mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini makin gemuk, padahal peringkatnya masih Silver Lion. Namun, jangan punya anggapan, mereka yang terjun ke Tianshi berasal dari ekonominya kurang mapan. Sebut saja Theresia, istri seorang pengusaha yang juga networker Tianshi. “Wah, saya senang sekali. Apalagi mitra kerja saya, Ida Ayu Ketut Ratmini, mendapat BMW. Jadi, kebahagiaan saya, plus-plus,” ujar perempuan asal Bali ini.

Padahal, kiprahnya di Tianshi, bermula dari produk. Bukan semata-mata karena faktor finansial. “Waktu saya konsumsi, saya merasa cocok,” ujarnya. Karena cocok, ibu empat anak ini bercerita kepada teman-teman dan relasinya. Eh, tak di duga, setelah merasakan hal yang sama, banyak diantaranya yang ikut bergabung. Malah dibulan berikutnya, ia memperoleh bonus. Di sinilah, Theresia yang hanya tamatan SMA, berfikir bahwa bisnis ini begitu mudah untuk dijalankan.

Jadi, hanya menggunakan produk dan cerita, eh dapat bonus,” tambah Theresia yang mengaku belum pernah menggeluti network marketing, kecuali hanya Tianshi. Tapi, ia mengingatkan, cerita bisnis network marketing tak selalu identik dengan uang. Tapi ada hal yang lebih penting, yakni kesehatan dan berkembangnya kepribadian.

Katarina, demikian wanita berkulit putih ini, adalah orang pertama yang meraih BMW untuk propinsi Papua di Tianshi. Kiprahnya di bisnis jeringan ini dimulai beberapa tahun lalu. Diprospek oleh Ulung yang tinggal di Bandung. “Wah, saya senang sekali. Ini bukti, walau saya tinggal di Papua, juga bisa dapat BMW,” ujar katarina.

Jangan kaget pula, dari 13 ribu jaringannya, paling banyak berada di Papua. Mereka tersebar di Papua, Timika, Sorong, Merauke, Biak, Monokwari. Sisanya berada di Jawa Tengah dan Makassar. Ia berharap, BMW yang dierolehnya itu dapat menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan lainnya. “Saya pikir, bisnis ini cocok untuk perempuan. Apalagi waktunya yang fleksibel” jelas Katarina.

FERAWATY HARTONO, MEMULAI BISNIS TIANSHI DARI AWAL

Serba kaya tampaknya melekat pada Ferawaty Hartono (Fei Fei). Pertama, perempuan asal Yogyaarta ini merupakan istri kondang Leader di Tianshi, Louis Tendean. Dari 1,2 juta jumlah networker di perusahaan network marketing asal China itu, Louis yang di juluki “Si Bocah Ajaib” merupakan orang pertama yang bertengger di Diamond Gold Lion 3, sekaligus peringkat tertinggi saat ini. Bonusnya perbulan mencapai ratusan juta rupiah. Ia juga menggondol semua penghargaan, dari BMW, Kapal pesiar, dan Villa mewah.

Kedua, Fei Fei - demikian panggilan akrabnya, juga seorang networker perempuan. Walau peringkatnya baru Silver Lion, Fei Fei memiliki jaringan yang tambun, mengantarkannya meraih semua penghargaan Tianshi, seperti BMW, Kapal Pesiar, dan Villa Mewah. Di Tianshi sendiri, selain Fei Fei, menyembul sosok Livia Helen, yang juga meraih empat penghargaan. Cuma, dalam urusan peringkat, Fei Fei tampaknya lebih “senior”.

Ternyata, atribut “kaya” tersebut benar-benar genap saat pasangan itu menginjak empat tahun usia perkawinan. Sebagai hadiah perkawinan, Louis memberikan istrinya sebuah mobil mewah, Mercedez Benz Silk 2000, yang harganya mencapai Rp 1 miliar. Mobil ini di sandingkan dengan BMW seri 6 yang berharga Rp 1,7 miliar. Jika di total, harga kedua mobil itu mencapai Rp 2,7 miliar. Belum lagi BMW seri 3 dan kijang Inova.

Itu baru mobil. Bagaimana dengan rumah? selain punya di beberapa daerah, pasangan inipun sedang menyiapkan rumah baru yang dananya menelan Rp 12 miliar, masih di lokasi Perum Dago Permai. Biaya maket plannya saja, sudah menelan Rp 300 juta.

Padahal, jika dirunut ke belakang, pasangan ini bukan siapa-siapa. Sebelum menekuni Bisnis Tianshi, Louis menggeluti profesi sebagai penjual panci door to door maupun menjajakan melalui berbagai pameran. Pria kelahiran 6 Oktober 1974 ini juga pernah mengalami kegetiran hidup, seluruh rumahnya terbakar hingga melumat harta keluarganya. Sementara istrinya berasal dari keluarga kecukupan, yang tak merasakan pedihnya guratan hidup sang suami.

Di network marketing, pasangan ini bertemu, pacaran, menikah dan menyandang atribut pasangan terkaya dalam dunia network marketing Indonesia. Kisah mereka juga membuktikan bahwa bisnis jaringan adalah “kendaraan” yang termudah dalam merubah hidup. Maklumlah, setelah setelah sekitar 5 tahun berjuang di bisnis ini, pasangan ini menikmati enaknya “uang yang bekerja untuk mereka“, sebuah penghasilan yang hanya dinikmati kalangan tertentu, khususnya para pengusaha atau para konglomerat yang punya ratusan jenis usaha.

KISAH Fei Fei, perempuan sukses di Tianshi.

Sebelum di Tianshi, saya sempat bergabung di sebuah perusahaan network marketing. Itupun karena diajak seorang teman di kampus. Di network marketing itu, saya bertemu dengan Louis Tendean. ketika bertemu, jujur saja, perasaan saya biasa-biasa saja. Namun, setelah dekat, saya menemukan sesuatu yang lain dari dirinya. Pandangannya tentang hidup begitu jauh kedepan, melebihi usianya yang masih muda. Dia menjelaskan perjalanan hidupnya, yang semula menyenangkan, berubah menjadi kegetiran. Rumahnya terbakar di lalap si jago merah, membuat seluruh hartanya ludes, kecuali yang tertinggal hanya pakaian yang melekat di badan.

Sampai-sampai, celana pun dipinjamkan tetangga. Kuliahnya di Universitas Maranatha, Bandung, Jawa Barat, dibiayai sendiri. Saya berfikir, kok ada ya kehidupan seperti itu, sesuatu yang tak pernah terlintas di benak saya. Maklumlah, sebagai anak kedua dari empat bersaudara, saya dibesarkan dari keluarga berkecukupan. Segala kebutuhan kami disiapkan oleh orang tua, termasuk disekolahkan disekolah terbaik di Yogyakarta. Louis pula yang mengajarkan saya banyak tentang hidup. Dia selalu berpesan den mengingatkan, “Jangan sampai seperti saya dulu, baru kamu mau berubah untuk sukses. Lakukan sekarang mumpung kehidupan kamu masih baik“.

Sayangnya, perusahaan itu tutup, membuat kami kapok dengan network marketing. Tapi, kemandirian yang ditularkan oleh Louis, benar-benar membungkus relung hati saya yang paling dalam. Makanya, saya berjualan perhiasan perak di kampus, ataupun mengikuti bazaar-bazaar di kampus. Modalnya berasal dari saya, tidak meminta dari orang tua. Tapi, orang tua saya melarang, takut kuliah saya terganggu. Tugas saya, kata mereka, hanya belajar. Jadi nggak perlu cari duit.

Sementara Louis berjualan panci. Hal Itu dilakukan setahun, 1999 - 2000. Wah, penghasilannya cukup lumayan per bulan. Eh, Januari 2001, saat kita pameran, datang Trisulo menawarkan bisnis Tianshi. Kontan saja saya larang. Maklumlah, di bisnis network marketing, Louis itu selalu gagal. Jadi, saya pikir sayang buang-buang uang lagi. Tapi, entah kenapa, Louis tetap ngotot. Dia minta kita jalan sendiri-sendiri.

Walau melarang, toh saya tetap menemani dalam setiap aktivitas bisnis Tianshi. Ya, namanya pacar. Jadi, pacaran kami dari satu presentasi ke presentasi lain. Mesra? Oh, itu jelas sekali, walau terkadang saya mangkel. Sebab, saat awal membagun jaringan, prospeknya yang diundang ke OPP di hotel, hanya 1 - 2 saja yang datang. Bahkan tidak datang sama sekali. Belum lagi setiap hari kerjanya menelpon. itu khan semua butuh biaya yang tidak sedikit. Tapi Louis tetap ngotot, ia benar-benar tidak maun mundur.

Ternyata, kegigihannya tidak sia-sia. Setelah enam bulan berjuang, pelan tapi pasti, jaringannya mulai terbentuk. Bonusnya sudah mencapai jutaan. Disinilah saya baru melek, serius menekuni bisnis Tianshi, tepatnya Agustus 2001 lalu. Apalagi buku-buku Robert T Kiyosaki bermunculan, membuat wawasan saya jadi bertambah. Saya benar-benar tidak ingin ketinggalan kereta, ingin sukses dan kaya di Tianshi. Di sini, Louis berpesan, “Jika kamu ingin sukses, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan”.

Makanya, saya tetap kerja keras membangun jaringan. Di tolak, dilecehkan, di usir hingga saya menangis, menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Jika sudah begitu, ya saya mengadu ke Louis, baik sebagai upline maupun pacar. Dia pun memotivasi, hingga semangat saya tetap terjaga dan bangkit kembali. Hal itulah, menurut saya, jika kita sedang down, sebaiknya bertemu upline ataupun mengikuti pertemuna-pertemuan. Jangan di pendam, apalagi berkeluh kesah dengan mereka yang pikirannya negatif. Saya yakin, hasilnya akan negatif juga.

Jujur saja, sebagai pacar ataupun istri, saya sedikit diuntungkan. Setidaknya, jika jaringan saya mengadakan sebuah acara besar, saya bisa memintanya untuk hadir. Jika tidak mau, ya saya sedikit memaksa dengan wajah cemberut. Tapi, ingat lho, hanya sebatas itu. Lainnya, seperti membangun jaringan, saya kerjakan sendiri. Jadi, dalam Team Work, jaringan kita bangun sendiri-sendiri, kecuali hubungan sebagai upline-downline, maupun suami istri. Tapi, ya namanya istri, saya downline yang plus plus dech untuk Louis.

Saya suka uang …

Uang memang bukan segalanya. Tapi, hidup mengajarkan, segala-galanya membutuhkan uang. Makanya kalau ditanya soal uang, wah, pasti saya suka. Sebab, bagi saya uang itu begitu penting. Dengan uang, kita bisa melakukan sesuatu yang kita inginkan. Coba saja bayangkan hidup tanpa uang. Kita hanya bisa menjadi “penonton” saat orang lain membantu sesama, menyekolahkan anaknya ke tingkat yang lebih tinggi, membantu orang tua dan lain sebagainya.

Karena itu, walaupun segala sesuatunya sudah di sediakan suami, saya masih tetap bekerja. Saya ingin sukses dan tetap ingin jadi orang kaya. Soal inilah yang sering ditanyakan orang, kurang apalagi pada saya? sebab, dengan penghasilan yang dimiliki suami, saya tinggal duduk manis, pergi ke salon atau ke spa memanjakan diri, pergi ke mall untuk shopping dan lain sebagainya.

Tapi, bila santai-santai saja, saya pikir, itu bodoh sekali kalau saya tidak belajar dari suami. Bodoh sekali bila saya tidak bisa mengail ilmunya. Sebab, orang lain saja ingin bertemu, ingin belajar resep keberhasilannya di bisnis ini. Lho kok saya, yang setiap hari ketemu, setiap hari berbicara, melayani dan mengurusinya, kok tidak mau belajar, tidak mau sukses dan kaya. Saya pikir, jika saya santai-santai saja, wah betapa konyolnya saya.

Lagipula, Tuhan mengaruniakan kita talenta, kemampuan berkembang, mengembangkan dan membantu orang lain. Masak sich kita diam saja melihat penderitaan orang lain, tidak memiliki empati dan rasa peduli. Buat saya, salah sekali jika kita tidak jadi siapa-siapa. Justru siapapun kita, entah itu anak orang kaya, ibu rumah tangga, hidup tak sampai disitu saja. Masih banyak yang harus dikembangkan. Semua itu bisa diperoleh dan dilakukan melalui network marketing.

Saya sendiri pernah mengalami pahitnya tidak punya uang. Ketika itu, ada sebuah baju pesta yang bagus, harganya Rp 300 ribu. Karena tidak punya uang, saya hanya bisa mencoba-coba saja, tidak bisa memiliki. Sejak itu, saya katakan kepada suami, suatu saat saya akan berbelanja tanpa melihat harganya. Makanya sekarang, kalau berbelanja, saya langsung beli apa saja yang saya inginkan tanpa melihat harganya. Paling-paling suami tersenyum kecut dan cemberut. Tapi, dia khan tidak bisa marah. Sebab, selain tugas istri bagian “menghabiskan”, juga menghasilkan. Makanya saya tetap senang dan suka duit ….

Obsesi kami banyak …

Jujur saja, lewat network marketing, khususnya Tianshi, finansial kami lebih dari cukup. Kami punya beberapa rumah, mobil BMW baik seri 3 ataupun seri 6,dan Mercedez Benz Silk 2000. Yang terakhir ini merupakan hadiah perkawinan ke-4. Bahkan, kami juga sedang mempersiapkan rumah baru yang biayanya mencapai Rp 12 milyar. Lokasinya tak jauh dari rumah kami, di resort Dago Permai, Bandung, Jawa Barat.

Selain materi, banyak hal lain yang kami peroleh di bisnis jaringan ini. Misalnya pengembangan kepribadian, sesuatu yang tidak saya peroleh di kampus. Bayangkan saja, dulu saya orang yang tidak basa basi, malas bertemu orang, sehingga sering berada dikamar dengan iringan musik. Wah itu, saya betah sekali.

Tapi, setelah mengikuti network marketing, hal-hal tersebut jadi hilang. Mungkin, karena terpaksa, saya harus berubah jika ingin sukses dalam kehidupan. Namun, satu hal yang tak terkira di bisnis ini, saya bisa membahagiakan orang tua, sesuatu yang tak ternilai oleh apapun. Bahkan rasa capek,ditolak, diusir, dilecehkan, sekejap saja hilang saat melihat kebahagiaan mereka.

Sebagai wujud cinta dan rasa syukur, saya membelikan mereka rumah termewah di perumahan mewah Yogyakarta. Saya juga bisa membawa mereka keluar negeri. Jadi, bisnis ini banyak memberikan kesempatan kepada kita untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi orang-orang yang kita cintai.

Tapi, apa yang kami peroleh semua itu, belumlah seberapa dibanding orang-orang kaya lainnya. Lihat saja gedung-gedung menjulang tinggi di Jakarta, mereka yang memiliki ratusan usaha, pesawat terbang dan sebagainya. Semua itu tentu ada yang punya. Makanya kami akan terus bekerja dan bekerja. Alasannya, kami masih punya banyak obsesi.

Lebih-lebih jika menoleh ke jaringan. Mereka itu berasal dari berbagai lapisan. Ada satpam, ada tukang sayur, mahasiswa, sopir, ibu rumah tangga dan sebagainya. Tanpa mereka, kami sadar sepenuhnya, hidup kami tidak akan seperti ini. Louis dan saya, mungkin masih kost di gang gang yang sempit. Makanya, kami akan tetap bekerja dan bekerja, berusaha keras mewujudkan impian mereka. Itu “harga” yang tidak bisa ditawar tawar.

Demi sukses mereka, kami bersama rekan-rekan lainnya mendirikan Unicore, sebuah sekolah bisnis yang memberikan guide untuk kesuksesan. Mereka tinggal meniru dan mempraktekkannya. Bahkan, Unicore akan memberikan promo award bagi mereka yang memenuhi ketentuan. Unicore akan mengirimkan sedikitnya 80 orang untuk pergi ke Eropa. Jadi, apa yang diperoleh Unicore, akan dikembalikan lagi kepaa mereka.

Kami yakin, jika mereka antusias, berfikiran positif dan tidak berhanti ditengah jalan, apa yang mereka dambakan akan diperoleh lewat bisnis ini. Dulu saja, saya kurang begitu yakin terhadap bisnis ini. Maklumlah, saya tipikal yang tidak mudah percaya. Segala sesuatunya harus rasional, ada bukti empiris dan sebagainya. Tapi, seiring perjalanan waktu, ternyata apa yang digembar-gemborkan Robert T. Kiyosaki banyak benarnya. Buktinya, saya dan Louis merasakan. Jadi kalau kami bisa, merekapun pasti bisa, percayalah …

Kisah Ibu Diah Safitri Ratnasari dalam Mengharungi Hidup yang Penuh Liku

Keberuntungan,apa pun wujudnya,seringkali tak terduga datangnya.tentu ada sesuatu dibalik sana.”Ketika ayah saya meninggal,saya masih belum genap berusia 5 tahun,”tutur Diah safitri Ratnasari.Tetapi,mereka sudah terbiasa hidup mandiri membantu usaha yang dijalankan ibunya,yakni membuka jahitan.”Cita-cita saya kuliah di Fakultas Kedokteran,”tuturnya lagi.Dan,pada tahun 1999,saat awal kuliah di Fakultas Kedokteran Muhammadiyah Yogyakarta (UMY),tiba-tiba usaha ibunya bangkrut.

Bayangkan untuk membayar SPP saja tak sanggup.Padahal,selama menjadi mahasiswa prestasinya lumayan bagus,juga sebagai Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran UMY.Bahkan sewaktu sekolah di Madrasah Mualimat Muhammadiyah,dulu,Diah selalu rangking tiga besar.Bahkan pernah juara pidato se DIY dan menjadi siswa teladan lingkungan Madrasah Aliyah,lalu menjadi kontigen Yogyakarta pada Perkampungan Pelajar Teladan Nasional yang diselenggarakan Departeman Agama.

Kesulitan membayar SPP,mau tak mau selain pasrah pada Allah,ia harus berusaha mencari tambahan uang saku.Berjualan baju muslim pun dilakukannya.Keliling dari satu tempat kos ke tempat kos lain.Hingga tahun 2000 bertemu M Kurniawan SE MM yang akhirnya menjadi suaminya.Mereka akhirnya menikah Oktober 2002,dikarunia seorang anak.”kami lantas memulai usaha agrobisnis dan penggilingan padi kecil-kecilan,”tutur Diah di Rumahnya yang nyaman,bilangan Baciro.

Awal 2002 bertemulah mereka dengan ibu Fei-Fei yang memperkenalkan Tianshi.Melalui bisnis Network Marketing Tianshi itulah Diah menaruh harapan besar untuk bisa merubah kehidupan keluarganya.Mereka berdua bekerja keras.Pantang menyerah walau ketika menjalankan bisnis ini kendalanya banyak sekali.Bahkan cemooh dan hinaan.”kami percaya Allah tak akan merubah nasib kita apabila kita tidak mau mengubah nasibnya,”katanya.Dan,inilah yang membuat mantap pada pilihaannya.

Bahkan,dari bisnis ini mereka menikah dengan penghasila dari Tianshi.Deni Hanungtyoso,teman dekatnya menyaksikan.”yang membuat saya salut mereka masih sahabatnya,bahkan orang-orang yang tadinya tak keenal sehingga dapat mengubah nasibnya memiliki kehidupan yang jauh lebih sejahtera,”Kata deni.Bisnis tianshi,diakuinya,bisa membantu meningkatkan perekonomiannya.Bahkan kedua suami istri itu bisa mewujudkan impiannya,seperti memiliki Mercedes Benz E320,Mitsubisi Galant V6 Modifikasi,membuka kantor Distributor Tianshi di Timoho.

Ini semua berkat keprihatinannya,yang membuahkan hasil nyata.”Ketika Piring sudah terisi,kami bisa membagikannya kepada oran lain.Dulu,piring kita kosong,”tutur suaminya.Dan,Menurut Deni lagi,mereka banyak membantu anak-anak dari keluarga pra sejahtera yang terancam putus sekolah.Diah dan keluarganya sadar,anak-anak putus sekolah itu harus bisa sekolah.sebab,mereka ini generasi penerus.di magelang,dia mendirikan TPA.Gratis bagi anak-anak setingkat Taman Kanak-kanak.Sekitar 80 anak yatim piatu di magelang juga dibantu keberadaanya.

Keberuntunagn yang tak terduga datang jauari 2005,bahkan membawa nama baik pada Tiens International Confrensi di Malaysia.Diah yang tercatat sebagai distributor termuda itu mendapat Reward Luxury Car ,membawa pulang mobil BMW terbaru limitid edition secara gratis.”ini sebuah penghargaan khusus bagi distributor berprestasi dengan akumulasi omset dan peringkat tertentu,”katanya.Selain dirinya ada 260 orang laninya dari berbagai negara.Dari Yogyakarta,dua anggotanya juga mendapatkan,yakni Ahmad Setiawan dan Erika Bagus Irawan.

Keberuntungan yang diterimanya itu justru membuat ia semakin mantap melangkah,apalagi jaringan bisnis ini sudah tersebar lebih dari 203 negara.”kehidupan kami berubah,kesehatan terjamin dan penghasilan memuaskan,sehingga kami mempunyai masa depan cerah,”tuturnya.

Sumber :
Koran Yogyakarta : Kedaulatan Rakyat, Hal.8 ,Minggu pon 10 Juli 2005,kolom Jejak.

Kunci Sukses : 95 % Impian, 5 % Teknis –> Succes Story Pak Louis Tandean

Sempat bergabung dengan beberapa perusahaan MLM, Louis Tendean akhimya memilih dan fokus menjalankan bisnis MLM Tianshi. Kini dia tercatat sebagai 2 star diamond gold lion, posisi yang paling tinggi untuk Tianshi di Indonesia.

USIANYA terbilang masih muda, 31 tahun. Tak heran jika semangatnya terlihat masih menggebu-gebu. Apalagi kalau bicara soal MLM yang digelutinya, Tianshi (PT Singa Langit Jaya), Louis Tendean bisa betah berjam-jam menjelaskan bisnis itu kepada lawan bicaranya atau down line-nya yang ingin tahu Tianshi, termasuk soal rahasia suksesnya.

Dengan jenjang posisinya saat ini, 2 star diamond gold lion, bapak satu anak ini bisa menikmati kemewahan yang selama ini banyak didamba orang, seperti rumah mewah, mobil mewah, ataupun berkali-kali berlibur ke negara lain. Hebatnya lagi, jenjang 2 star diamond gold lion adalah posisi tertinggi untuk distributor Tianshi di Indonesia. Asal tahu saja, di posisi diamond gold lion, ada lima bintang yang harus dilalui distributor Tianshi sebelum dia meraih posisi paling puncak: director. “Sebenarnya jenjang saya ini tertinggi di Asia Tenggara. Sedangkan istri saya, Verawati Hartono, justru nomor satu di Indonesia. Dia sudah 1 star diamond gold lion,” jelas pria kelahiran Bandung, 6 Oktober 1974 ini kepada WartaBisnis.

Tentu bukan perkara mudah bagi Louis meraih semuanya itu. Bayangkan, dulu dia hanyalah anak muda yang ingin bekerja sekadar membantu “asap dapur” orang tuanya. Apalagi ketika itu musibah kebakaran menimpa rumah orang tuanya di Bandung. “Kami harus mulai dari nol lagi. Makanya saya harus berpikir cepat bagaimana caranya mencari uang untuk kelangsungan hidup kami. Kebetulan ada ternan yang menawari bisnis MLM, yang katanya mudah dilakukan clan cepat kaya. Maka saya pun bergabung dengan MLM itu,” cerita pria yang sempat kuliah di Jurusan Teknik Industri Universitas Maranatha, Bandung ini.

Lebih dari sarti MLM diikutinya, tapi hampir semuanya berakhir dengan kegagalan, “Ada yang pendirinya meninggal, lalu perusahaan itu bubar. Ada yang dibeli perusahaan lain, terus caranya jadi berubah. Ada yang terimbas krisis moneter dan sebagainya,” ungkap Louis yang setelah itu enggan mencari uang lewat bisnis MLM.

Bungsu dari lima bersaudara ini lalu memutuskan berbisnis konvensional, dari mulai menjual panci, teflon, VCD, sampai HP dengan cara door to door ataupun pameran. Tapi hasilnya tidak seberapa. Malah dia merasa tertekan karena belum mampu memberi yang terbaik buat orang tuanya. Nah, di saar itulah temannya mengenalkan Muhammad Trisulo kepada Louis. Dua orang ini lalu menawarkan dan bergabung ke Tianshi, bisnis MLM asal China yang ketika itu (tahun 2000) baru membuka jaringan di Indonesia. Namun karena merasa trauma dengan MLM yang penah diikutinya, Louis dengan halus menolak ajakan itu.

Tak putus asa, Trisulo sendiri berkali-kali menyambangi Louis ke Bandung. “Berbulan-bulan saya berusaha menghindar dari dia. Ibaratnya saya ini jaim (jaga image, Red). Tapi, pelan-pelan ego saya akhimya runtuh juga sarna bujukan dan persuasi dia. Maka, akhir 2001 masuklah saya ke Tianshi,” papar pria yang kini menetap di Resort Dago Pakar, Bandung. “Awalnya tak serius menjalankan bisnis ini. Tapi bermula dari pengalaman akan produk makanan kesehatan Tianshi yang bagus dan orang-orang yang saya sponsori makin tarnbah semangat, akhimya saya berusaha menjalankan bisnis itu dengan serius,” sambungnya.

Kini hasilnya memang menakjubkan. Down line-nya kini sudah berkembang sampai 500 ribu orang yang tersebar tak hanya Indonesia, tapi juga Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Australia. Penghasilannya? Wow, sudah ratusanjuta rupiah sebulan. Dengan penghasilannya seperti itu, dia kini bisa memiliki beberapa mobil dan hunian mewah, yang sebagian didapatnya dari bonus sebagai distributor sukses di Tianshi. “Di Tianshi, distributor sukses bisa mendapat mobil BMW gratis, selain kapal pesiar dan pesawat (yang kedua terakhir ini dalam bentuk cash money, Red.),” ungkap Louis yang kini sering menunggangi mobil hasil jerih payahnya, BMW 645 ci.

Louis yang grupnya kini punya pusat pelatihan distributor sendiri bemama Unicore, berharap dia bisa meraih posisi puncak sebagai director dalam beberapa waktu mendatang. “Bisnis MLM adalah bisnis jaringan. Makanya, untuk menuju kesuksesan, kami hams bekerja bersama-sama, tak bisa sendiri-sendiri,” tandas pria yang punya moto bisnis MLM 95% adalah impian dan sisanya 5% adalah teknis. Agustman.

Sumber : Majalah Warta Bisnis Bulan Juli 2005

Kisah Sukses

Louis Tendean

Bila diurutkan dari atas ke bawah, posisi Upline-Downline, Maka yang pertama adalah Agus Trilaksono, Rudi M Noer, Trisulo lalu Louis Tendean. Namun Anehnya Louis memiliki peringkat lebih tinggi dibandingkan para Uplinenya. Ya disinilah salah satu kelebihan bisnis Tianshi, siapa yang bekerja lebih keras akan mendapatkan hasil lebih banyak.Orang yang dijuluki si Anak Ajaib ini, di tahun 2003 telah masuk ke dalam daftar 100 Pemasar Terkaya yang diterbitkan Majalah Warta Bisnis Edisi Oktober 2003.
Dalam daftar pemasar yang ditulis Warta Bisnis, disebutkan bahwa hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun menjalankan bisnis Tianshi, Louis telah memiliki income di atas Rp.500 Juta perbulan, menyalip para Uplinenya dan menyalip Income tertinggi para Leader CNI dan Amway yang telah menjalankan bisnisnya lebih dari 10 Tahun, serta menyalip income tertinggi para Agen Asuransi dan Broker Properti.


AB. Wijaya
Guru SD Yang Ditawari Kerja

Sayangnya sang ayah tidak sempat merasakan kebahagiaan itu. Sang ayah telah berpulang sebelum anak-anaknya sukses. AB bergabung dengan Tianshi pada Juli 2003 diajak oleh kakaknya, Bram (Alexander Bramanto). Tanpa proses presentasi dan follow up. Kami bicara hanya lewat by phone saja. Karena saat itu pak Bram di Yogyakart. Pak Bram hanya bertanya “kamu mau kaya nggak’? dan saya bilang “ya” kata AB. Menurut AB, dirinya percaya saja apalagi ibunya sudah join. Ajakan menjadi orang kaya sangat menarik bagi AB. Apalagi saat iru AB sedang kesulitan ekonomi, sedang banyak utang dan bosan mengajar di SD. Awalnya motivasi AB hanya sederhana saja ingin tambahan pendapatan Rp. 500 ribu perbulan. Motivasi AB terus berkembang karena melihat upline yang menjadi parameter kesuksesan. Saya membangun bisnis ini karena ingin membahagiakan orang-orang yg saya cintai. Saya juga ingin membuktikan kepada orang yang meremehkan saya. Orang-orang ini yang terus mengejar saya, jika berhenti mereka akan menerkam dan tertawa. Setiap saya down akan terbayang wajah orang-orang tersebut yang membuat saya termotivasi lagi. Ketika dirinya ngotot mengejar bintang 8 hanya ingin membuktikan bahwa hidup ini bisa berubah total.
Kalau dulu saya tinggal dikontrakkan kecil, naik motor. Di bintang 8 saya sudah punya rumah ini dan punya mobil , seiring berjalannya waktu saya buktikan bisa dapat reward dan meraih Bronze Lion.

Asiya
TKW Yang Memperoleh Reward Mercy


Saat ini Asiya tinggal di Malang, Jawa Timur bersama suami dan anaknya. Asiya kembali keHongkong ketika sedang membantu jaringannya, mengembangkan Tianshi. Mereka harus segera pulang dan cepat pension dari pekerjaan mereka saat ini sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) kata Asiya. Alhamdulillah, luar biasa sekali. Saya tidak bisa membayangkan bisa naik Mercy. Nyaman rasanya, mantap dan tidak ada goyangan sama sekali, kata Asiya ketika menikmati Mercy C230 Sport sebagai Reward Luxury Car dari Tianshi. Sebelum menggeluti bisnis Tianshi, Asiya adalah seorang TKW. Dulu yang namanya TKW dipandang sebelah mata. Kami selalu dianggap lebih rendah, jika lantai itu kotor kami lebih kotor lagi. Bahkan terkadang pakai ditendang segala. Tetapi kami yakin, Allah yang menetapkan derajat manusia. Asiya bergabung dengan Tianshi tahun 2003 dan mulai aktif januari 2004. Awalnya Asiya mengaku belum mendapatkan gambaran sama sekali bagaimana cara menjalankan bisnis ini. Saya memulai bisnis ini dari Hongkong tempat saya jad TKW. Tianshi telah memberikan masa depan yang cerah. Dulu saya ini bukan siapa-siapa. Adalah Ice Sofiatullah yang mengenalkan Tianshi kepada Asiya. Menurut Asiya, Ice bersama ustat Jujun Junaidi telah berjuang keras dalam memotivasi TKW yang ada di Hongkong. Pada saat itu sebelumnya Ice tidak bermaksud berbisnis. Ia hanya mengadakan pengajian rutin yang diadakan oleh majlis taklim. Asiya adalah anggota majelis taklim tsb. Tujuan Asiya ikkut majlis taklim yang berada di bawa konsulat RI itu hanya ingin belajar. Asiya termasuk anggota majlis taklim yang aktif sampai dijuluki sebagai juru kunci mushola. Asiya tidak segan-segan membersihkan kamar mandi dan wc.Jika saya dulu mencabut rumput-rumput musholah, nanti saya akan mencabut rumput surga. Asiya sudah bertekad mengubah nasib. Ice tidak banyak bicara ia hanya mengatakan Asiya harus berhasil dan bisa mengangkat derajat teman-teman dan orang tua.Alhamdulillah, saya menjadi orang pertama yang mengangkat derajat teman-teman TKW. Setelah mengenal Tianshi para TKW sekarang tidak lagi membicarakan apa yang terjadi saat ini ataupun tentang majikan mereka. Mereka lebih banyak bicara mengenai masa depan terutama yang berkaitan dengan pendidikan anak seperti orang-orang bisnis, teman-teman sudah berubah.

Asiya sudah enam tahun di Hongkong Ia bergabung dengan Tianshi setahun sebelum pulang ke Indonesia. Ketika itu belum ada alat bantu dan suppor system
yang mendukung pengembangan bisnis. Menjalankan bisnis Tianshi di Hongkong awalnya memang agak sulit, karena sebagai TKW dilarang menjalankan bisnis. Menurut Asiya TKW tidak boleh memiliki penghasilan selain sebagai TKW. Pernah suatu ketika produk kami di sita polisi Jika ketahuan kami menjalankan bisnis bisa dihukum dan dipulangkan.
Asiya terpaksa membuat home meeting didekat tempat sampah, dipinggir laut atau dikebun.Pertemuan dilakukan dua minggu sekali ketika libur kerja. Pernah suatu saat ada pembelokiran tempat pertemuan dan sempat dikejar polisi. Kami juga pernah mengadakan pertemuan ditengah kebun dalam keadaan hujan sambil berdiri dan memegang micropon. Asiya mengungkapkan bahwa banyak tantangan ketika awal membangun jaringan di Hongkong. Misalnya saja tidak ada tempat pertemuan, kehujanan tidak saling kenal, tidak bisa menitip barang
Pihak pemerintah Hongkong khawatir para TKW membuat organisasi dan memberontak. Padahal saya hanya menjalankan ibadah . Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik dan Tianshi di kenal dari China. Kondisi sekarang sudah berbeda sudah ada tempat pertemuan , kantor perwakilan Tianshi di Hongkong juga sudah bisa menerima kami. Polisi juga tidak mengejar-ngejar kami . Asiya masing sering bolak balik Indonesia –Hongkong sekitar empat sampai enam bulan sekali untuk membina jaringan yang ada di Hongkong, Saat ini Asiya mengembangkan jaringan di Indonesia yang dibangun mulai dari keluarga dan saudara-saudara TKW di Indonesia. Mereka harus bisa meningkatkan kondisi ekonomi keluarga.
Meskipun Mercy sudah ditangan, saya belum merasa puas sebelum banyak jaringan saya yang mendapatkan reward. Saya telah membuktikan bahwa perubahan derajat tidak hanya terjadi kepada orang-orang yang berpendidikan tinggi seperti dokter, manager dan pengusaha.

Wailudi
Tukang Ojek Naik Derajat

Wailudi Lamusi adalah salah seorang penerima reward Mercy C230 Sport tahun 2006 di Jakarta. Ia telah membuktikan bisa mengubah taraf hidupnya dari seorang pengojek menjadi seorang Leader. Wailudi pernah bergaji Rp. 700.000-800.000 di sebuah pabrik. Kini pendapatannya mencapai belasan rupiah tiap bulannya.
Waludi Join di Dianshi pada bulan Maret 2003 saat ia tidak memiliki pekerjaan. Untuk memenuhi nafkah keluarganya, Wailudi harus mengojek setiap hari. Ia mengenal Tianshi tanpa sengaja. Saat itu Wailudi sedang bertandang ke rumah teman, Lukman Hakim yang kini menjadi uplinenya. Saat itu Lukman sedang berbincang-bincang tentang marketing plan Tianshi dengan Gembong Pudjianto, (peraih Reward BMW di Malaysia 2005) Disitulah Wailudi tahu bisnis Tianshi. Tidak sulit bagi Wailudi memehami marketing plan, karena ia pernah menggeluti MLM. Bisnis ini memang lumayan. Mensponsori satu orang saja, bisa langsung mendapat Rp. 485 ribu. Kalau saya ngojek, dalam satu bulan belum tentu bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Bisa jadisaya harus ngojek setiap hari baru mendapatkan uang itu.
Wailudi berfikir, “nggak mungkin dalam waktu 30 hari saya tidak bisa merekrut satu orang bintang 3. Keyakinan ini muncul dalam hatinya, apalagi setelah mengikuti Sukses Seminar yang waktu itu menghadirkan Louis Tendean sebagai pembicara. Diseminar tersebut Wailudi bisa melihat orang-orang sukses dengan berbagai latar belakang. Hanya saja waktu itu Wailudi nggak punya uang sebagai modal untuk langsung bergabung bintang 3. Dari mana saya dapat uang sebanyak itu ? Kondisi saya sedang susah saat itu. Saya sudah pinjam kesana-kemari tapi nggak dapat juga. Wailudi terpaksa menjual motornya dengan harta sekitar Rp. 6.400.000,-. 2 jutanya buat join bintang 3 lebihnya buat biaya operasional. Saya targetkan waktu tiga bulan harus sudah bintang 5. Kalau tidak uang yang saya miliki sudah tidak ada lagi. Ternyata target tersebut tidak bisa dipenuhi, inilah masa-masa sulit bagi Wailudi dan keluarganya. Saya harus menggadaikan televisi, baru pada bulan keempat saya berhasil menjadi bintang 5. Wailudi mengawali membangun jaringan dari orang-orang dilingkungannya. Ia menawarkan bisnis ini kepada teman-temannya, terutama mereka yang pernah berkecimpung di MLM. Dari sekian yang ditawari seperti biasa ada yang tertarik dan banyak juga yang mengejek.
Bahkan begitu ada pesawat diudara teman-teman langsung meledek saya: Tuh …. Pesawatnya pak Wailudi !! ini yang sempat membuat saya sakit hati, toh bagi dia ejekan semacam ini justru menjadi pijakan untuk memompa semangat.Suatu ketika saya akan buktikan pada mereka. Mereka bersikap seperti ini kan karena mereka tidak tahu. Mereka tidak pernah dating ke OPP, sementara saya lihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa semua ini benar, banyak orang berhasil di bisnis ini.
Dalam perjalanan waktu Wailudi merasa untuk meraih Bronze Lion (BL) ternyata tidaklah sulit. Cukup memiliki dua orang saja yang sama visinya dengan kita. Dan di bisnis ini semua orang bisa menjadi BL. Asalkan mereka tidak berhenti, karena minimal memiliki dua kaki saja.

Louis Tendean
Si Anak Ajaib

Impiant terus saja menari-nari dalam benak Louis Tendean . Bahkan, jauh lebih besar, bikin orang terbelalak jika mendenganr impiannya tersebut. Bayangkan saja jika pengusaha sibuk mempertahankan eksistensi usahanya di tengah terpuruknya ekonomi global, maka “si bojah ajaib”, begitu julukan ikon networker Tanah Air ini, ingin punya pesawat jet pribadi, jangan kaget, harga transportasi udara itu bukan recehan ratusan juta, melainkan Rp. 40 miliar. Waktu targetnya 2010 mendatang,
Dari tahun 2001 ia memulai bisnis Tianshi, Ia saat ini ia memiliki Luxuri car dari Tianshi BMW seri 6, Mercedes Benz Silk 2000, ditambah Audi TT yang harganya mendekati 1 miliar, jika ditotal dari mobil saja pundi-pundi kekayaannya saja mendekati Rp. 4 miliar. Angka ini bakal membengkak lagi, bila dihitung dengan rumah impiannya, plus tanah seluas 2000 meter persegi, nilainya sekitar Rp. 20 miliar. Padahal Louis sendiri sudah punya dua rumah di resor Dago Pakar, Bandung Jawa Barat dan kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Wajar bila Louis disebut-sebut sebagai networker terkaya di tanah air.
Begitupun dalam soal peringkat. Lous melesat bagaikan busur anak panah. Ia merupakan orang pertama yang mencapai posisi Diamond Gold Lion, melampau para Uplinenya. Ditahun ini peringkat yang saat ini Diamond Gold Lion 3, hampir dipastikan 2008 ini bakal meloncat Diamond Gold Lion 4 (Director Four Diamond). Menyamai uplinnya Trisulo. Di tahun 2010 mendatang, sesuai impiannya punya pesawat jet pribadi, peringkatnya mencapai Diamond Gold Lion 5 (Director Five Diamond), dan peringkat puncak di Tianshi Executive Director. Tinggal satu peringkat Director untuk mencapai Executive Director. Semua pencapaian peringkat tersebut dapat dicapai pada usia Louis sekarang ini 34 tahun. Seorang mantan penjual panci. Mengapa mantan penjual panci dapat meraih kesuksesan yang luar biasa ? itu karena 95% Impian yang dapat mewujudkan semua keberhasilan yang kita inginkan. Bagaiman dengan Anda ?
Apakah anda masih ragu dengan keputusan anda? Semua keberhasilan dan kesuksesan ada ditangan anda.
Itu hanya akan dicapai, bila ia mampu mewujudkan impian teman-teman dijaringannya

Livia Helen

Sukses di usia muda. siapa tidak mau ? Livia Helen telah mendapatkan seluruh penghargaan yang dijanjikan Tianshi. Reward mobil mewah, kapal pesiar, pesawat pribadi, dan vila sudah diraihnya. Sebuah prestasi yang begitu istimewa. Karena baru sebelas orang yang berhasil meraih seluruh reward dari sekitar lebih dari 100 orang yang telah mendapatkan penghargaan Tianshi.
Ini menjadi bukti, bahwa semua impian itu bisa diwujudkan. Mendapatkan semua reward itu sebagai perlambang, bahwa mereka telah mencapai salah satu impiannya.
20 orang yang berada di jaringan nya yang berhasil mendapat reward, mulai dari sepertiga dari seluruh reward yang dibagikan untuk jaringan P Sudah sekitar ak Louis. Jika yang dibagian 30 BMW, 10 dari jaringannya , melihat dari perbandingan perolehan reward dijaringan di banding dengan seluruh reward yang diperoleh dari jaringan Pak Louis . Misalnya dari seluruh reward Tianshi untuk Indonesia 80% dari jaringan Pak. Louis. Selama ini jaringannya selalu mendapatkan sepertiga nya sempat ketinggalan Cuma dapat seperempat tetapi sudah dapat dikejar lagi menjadi sepertiganyanya, total semua penghargaan yang didapat di jaringannya termasuk yang mendapatkan penghargaan paket. Dia menargetkan setiap orang tidak berhenti pada reward BMW saja, karena banyak orang yang berhenti sampai reward BMW saja tidak akan maju-maju.

Menggadaikan Motor Teman

Banyak orang beranggapan bahwa, yang sukses di Tianshi hanya orang-orang tertentu saja yang bermodal besar. Faktanya, ada sosok distributor berasal dari keluarga biasa-biasa saja, bisa berhasil dan sukses di Tianshi.

Beliau adalah Iwan Palu, sosok Iwan Palu (biasa disapa seperti itu) berasal dari keluarga pegawai negeri, sebagai Mahasiwa di salah satu PTS Jogjakarta, beliau sangat berbeda dengan kebanyakan mahasiswa pada umumnya. Untuk berangkat ke kampus saja beliau harus mengayuh sepeda ontel kesayangan, sementara kebanyakan mahasiswa lainnya menggunakan sepeda motor dan mobil.

Ketika memutuskan bergabung di Tianshi, beliau nekat menggadaikan MOTOR TEMAN dan begabung di *3 dengan jaminannya 2 bulan harus diganti. Kadangkala ia harus meminjam sepeda motor kanan-kiri untuk menjalankan bisnis ini.

Keputusan beliau 3 tahun silam tidak sia-sia, kini beliau sudah bisa membuktian kepada diri sendiri dan orang lain, bahwa untuk sukses di Tianshi dibutuhkan lebih dari sekdar uang, melainkan impian dan kerja keras.

Mei 2007 di Cina, semua kerja keras dan perjuangannya akhirnya tiba pada waktunya, reward bergengsi Luxury Car dari Tianshi berhasil di raihnya dan tentu saja bonus fantastis lainnya.

Profil Iwan Palu